2. Tidak adanya bukti autentik yang mendukung akan kelanggengan dan azaliyahnya materi

Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria

Sesungguhnya orang-orang atheis tatkala diarahkan pertanyaan pada mereka –yang menjadi tantangan bagi mereka- siapa yang menciptakan material? Maka mereka akan menjawab, "Sesungguhnya ilmu pengetahuan menetapkan bahwa material telah ada semenjak dahulu kala". Kita mengarahkan pertanyaa kepada mereka tentu harus ada jawaban untuk mendukung dan membuktikan klaim tersebut. Yaitu, mana dalil ilmiah autentik yang membuktikan kebenaran pendapat kalian kalau partikel materi sudah ada semenjak zaman dahulu kala.

Semua yang kalian sebutkan berkaitan dengan dalil-dalil yang kalian klaim bahwa partikel lebih dahulu dari pikiran, serta mengatakan partikel tidak diciptakan dari sesuatu. Sehingga sampai pada kesimpulan sesuatu yang tidak mungkin musnah tentu tidak perlu diciptakan.

Inilah tiga syubhat yang didengung-dengungkan oleh mereka, yang bila diperhatikan tidak ada melainkan terkaan dan persangkaan yang tidak dibangun diatas satupun dalil autentik yang ilmiah.Bagaimana mungkin kalian mau mempercayai dengan teori-teori semacam ini sedangkan kalian sendiri membangunya diatas terkaan dan persangkaan belaka, lalu kalian menolak mengimani adanya pencipta yang maha pencipta sedangkan efeknya bisa dirasakan secara jelas dan gamblang!

  • Kontradiksinya metode komunis dengan metodologi ilmiah.
  • Kontradiksi konsep material -yang diklaim oleh mereka azali- dengan kekhususan yang dimiliki oleh benda azali yang telah diketahui oleh semua orang yang berakal, dan tentunya oleh orang-orang komunis.
  • Bukti autentik menjelaskan, bahwa alam semesta dan material adalah seuatu yang baru.

Yaitu, bahwa filsafat yang dianut paham materialisme ialah filsafat ilmiah semata yang selaras dengan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Dan diantara tugas metedologi ilmu sains –sebagaimana ma'ruf- hanya terbatas pada dunia partikel saja, tidak lebih menjerumus pada pembahasan dibelakangnya, sebab sarana yang dijadikan sebagai sandaran hanya riset dan ingkar kepada AllahShbhanahu wa ta’alla. Ini merupakan sarana dangkal yang menjadikan sulit bagi mereka untuk mengetahui siapa pencipta dibalik dunia material.

Terlebih lagi, sarana yang mereka tempuh ini tidak punya kekuatan untuk menafikan atau menetapkan. Maka kewajiban bagi Markisme dan Komunisme untuk konsisten didalam memegang metodologinya jangan kebablasan, seharusnya mereka lebih fokus pada studi dan riset tentang dunia materi dan mengabaikan yang lain, akan tetapi, mereka menjeburkan diri pada perkara yang berada diluar kapasitasnya dan jalurnya. Yaitu masuk dalam alam gaib, tapi, mengingkari keberadaan Allah azza wa jalla.

Sesungguhnya sifat azali (yaitu kekekalan benda tanpa disertai permulaan. Pent) sebagaimana telah disepakati oleh semua orang yang berakal harus terpenuhi beberapa syarat berikut:

Pertama

Keberadaan dzatnya harus sesuai dengan dzatnya. Artinya, dia tidak membutuhkan pada keberadaan, wujudnya, dan keberlangsungannya dari benda lain, dirinya tidak bisa dipengaruhi oleh benda lain, baik dari segi yang menjadikan dirinya ada, atau merubahnya menjadi benda lain, atau menjadikan dirinya sirna.

Kedua

Hendaknya sudah ada lebih dahulu tanpa didahului dengan permulaan, sebab jika dia didahului dengan permulaan, dirinya akan berubah menjadi sesuatu yang baru yang tadinya tidak ada, sehingga gugur stempel azaliyah pada dirinya.

Ketiga

Hendaknya dia tetap awet tanpa mengalami kepunahan. Sebab kalau dirinya mempunyai batas, maka ini tentunya menunjukan adanya pihak lain yang menjadikan dirinya bisa sirna.

Dan orang-orang materialisme secara umum menyepakati syarat-syarat wajib ini, untuk mengatakan suatu benda azali. Akan tetapi, mereka berusaha berpaling ketika mengaplikasikan kepada material, dimana mereka tetap ngotot kalau material mempunyai sifat azali [1]Apakah memang betul kalau material seperti yang mereka sangka itu? Berikut jawabannya, yang ada pada poin atas jawaban syubhat mereka yang kelima dan setelahnya.

Bukti-bukti ini, barangkali bisa kita gabungkan menjadi dua bagian:

 Bukti-bukti akal yang digunakan oleh ahli filsafat kuno.

Pokok dalil ini ialah menetapkan kejadian baru bagi semesta alam dengan menggunakan perubahan yang nampak jelas bagi benda-benda yang ada diatasnya. Hal tersebut, karena perubahan termasuk bentuk kejadian baru bagi rupa, fisik, dan sifat. Dan kejadian baru ini harus ada alasan mendasar yang jelas, dan alasan-alasan ini yang senantiasa bersambung bagi perubahan-perubahan yang ada pada akhirnya akan mengantarkan pada satu titik yang dengannya akan menguatkan bagi kita bahwa alam semesta ada awal permulaannya dari segi sifat ataupun hamparanya sangatlah luas, dari sisi dzat ataupun partikelnya.

Dan tatkala kita telah sampai pada hakekat ini tentunya kita semakin kuat menetapkan bahwa disana ada pencipta yang punya sifat azali –yang tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi baru ada-. Pencipta inilah yang telah menciptakan alam semesta ini, menjadikan ada bentuknya dengan sifat-sifat yang saling berbeda satu benda dengan yang lainnya[2]. Dan yang menjelaskan hal tersebut ialah:

Pertama

Bukti logika yang menunjukan adanya kemusnahan dan kelahiran.

Allah azza wa jalla menyebutkan didalam firman -Nya

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

QS ath-Thuur: 35

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Ada yang mengatakan,  bahwa maksud firman Allah ta'ala:

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

QS ath-Thuur: 35

Maksudnya adalah Allah Shubhanahu wa ta’allayang menciptakan mereka. Ada yang mengatakan, "Bukan Allah Shubhanahu wa ta’allatapi dari materi".  Ada yang mengatakan, "Tanpa adanya balasan dan ganjaran". Pendapat yang pertama inilah yang dimaksud dalam ayat ini. Sesungguhnya setiap benda yang diciptaan, baik berupa unsur benda yang paling kecil hingga yang paling besar tentu harus ada yang menciptakan. Fitrah yang selamat mengetahui bahwa sesuatu yang baru pasti ada yang menjadikan ada, ini dalil yang paling jelas yang menerangkan bahwa segala sesuatu yang baru, baik dari benda yang paling kecil elemenya hingga yang terbesar tentu ada yang menciptakannya. Bahkan, kebanyakan orang yang berakal akan menolak pada perkara yang kedua dan ketiga, tapi, tidak pada makna yang pertama.

Ada sebuah kelompok mengatakan, "Bahwa jagad raya ini adalah sesuatu yang baru tanpa ada dzat yang menjadikan menjadi baru". Bahkan ada lagi kelompok yang lain mengatakan, "Bahwa jagad raya sudah ada dengan sendirinya yang mengharuskan dengan sendirinya tanpa perlu yang mencipta". Adapun yang mengatakan, "Sesungguhnya jagad raya sesuatu yang ada dengan sendirinya tanpa adanya pencipta". Maka ucapan ini tidak dikenal secara jelas dari kelompok yang terkenal, namun, hanya dinukil dari kelompok yang tidak jelas identitasnya"[3].

Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, "Firman Allah ta'ala

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

QS ath-Thuur: 35

Ada dua pendapat, kebanyakan para ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud, apakah mereka diciptakan tanpa adanya yang mencipta, bahkan murni dari ketidak adaan.

Sebagaimana dikatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alladidalam firman -Nya

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya

QS al-Jaatsiyah: 13

Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alladalam firman -Nya

Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya

QS an-Nisaa': 171

Demikian pula yang Allah Shubhanahu wa ta’allasinggung didalam firman -Nya

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)

QS an-Nahl: 53

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud, apakah mereka diciptakan tanpa melalui elemen. Dan pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Berdasarkan firman Allah Shubhanahu wa ta’allasetelahnya, yang artinya, "Ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).

Ini menunjukan bahwa sumpah yang ada dalam ayat bermakna apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakan? Kalau yang dimaksud, diciptakan dari selain elemen, niscaya dikatakan padanya, apakah mereka diciptakan dari sesuatu ataukah dari air yang rendah (mani)? Ini menunjukan bahwa yang dimaksud ialah Aku lah pencipta mereka bukan diciptakan oleh unsur elemen yaitu air mani. Karena keadaan mereka yang diciptakan tanpa melalui unsur bukan berarti sedang meniadakan adanya pencipta, walaupun mereka mengira bahwa hal tersebut tidak mencela keimananya kepada sang pencipta, tapi justru itu menunjukan akan kebodohannya.

Karena bagi setiap orang, ia tidak akan pernah menyangka hal tersebut, dan anehnya setan tidak memasukan perasaan was-was pada anak keturunan Adam dalam masalah ini, karena, semua orang mengetahui bahwa mereka diciptakan oleh orang tuanya. Karena pengetahuan mereka akan hal itu tidak mengharuskan adanya keimanan bagi mereka tidak pula mencegah kekufuran mereka.

Bentuk pertanyaan yang ada dalam ayat ialah pertanyaan pengingkaran, maksudnya, menegaskan bila mereka tidak diciptakan begitu saja tanpa ada yang menciptakannya, maka jika mereka mengakui hal tersebut, bahwa disana ada pencipta maka penciptaan mereka mempunyai arti, tapi, jika mereka meyakini bahwa mereka diciptakan dari unsur benda maka hal tersebut tidak memberikan efek apapun pada Allah azza wa jalla"[4]

Maksud dari ini semua yaitu menjelaskan bahwa didalam ayat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan dua perkara dalam masalah penciptaan. Yaitu:

Pertama

Bisa jadi mereka diciptakan dari sesuatu yang tadinya belum ada, sedangkan asalnya memang tidak ada.

Kedua

Atau mereka diciptakan dari sesuatu, dan mereka menciptaan diri mereka sendiri, maka berarti ekstitensinya sebagai asal yang lebih dulu ada.

Maka makna ayat, apakah mereka urbanisasi dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada tanpa adanya yang menciptakan? Atau, mereka adalah orang-orang yang menciptakan dirinya sendiri, dari urbanisasi benda yang sebelumnya tidak ada menjadi ada? Dan tentunya, kedua perkara diatas sesuatu yang mustahil terjadi, yang sangat jelas seterang matahari! [5]

Sesuatu yang menjadi ada tidak mungkin tidak ada sebab sesuatu yang tidak ada mustahil menjadi hukum asal karena akan menafikan hukum umum bagi setiap benda yang hadir dipikiran, demikian pula akan menafikan sifat-sifat -Nya, sehingga tidak ada dzat, kekuatan, keinginan,  tidak pula pengetahuan, kehidupan serta kosong tanpa mempunyai sesuatu apapun.

Dan tentunya, tidak mungkinsesuatu yang tidak ada ini dapat berubah menjadi ada. Dan tidak mungkin datang dari sesuatu yang tidak ada ini secara umum, baik bentuk, sifat, kekuatan yang muncul dari dirinya, yang mendorong sehingga bisa menjadi ada. Sebagaimana telah tetap bagi kita bahwa sesuatu yang tadinya tidak ada tidak mungkin menjadi hukum asal. Seperti dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam salah satu keterangannya, beliau mengatakan, "Tidak pernah al-Qur'an membicarakan penciptaan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada, namun, al-Qur'an mengisyaratkan bahwa makhluk diciptakan setelah sebelumnya tidak ada.

Sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’allajelaskan didalam firman -Nya

Dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali

QS Maryam: 9

Bersamaan dengan itu AllahShubhanahu wa ta’alla telah mengabarkan bahwasannya Dirinya telah menciptakan mereka melalui sarana air mani"[6].Jika perkaranya menunjukan bahwa sesuatu yang tidak ada menjadi hukum asal maka mengharuskan wujud menjadi hukum asal, karena lawan dari tidak ada. Oleh sebab itu sangat mustahil secara rasio sesuatu yang tidak ada datang secara tiba-tiba menjadi ada, maka kita yakini bahwa wujud merupakan hukum asal[7].

Kalau kita perhatikan kepada benda-benda yang ada, yang bisa kita tangkap dengan panca indera dijagad raya yang maha luas ini, bisa kita dapatkan bahwa benda-benda yang ada tadi -diantaranya manusia- sebelumnya adalah sesuatu yang tidak ada lalu menjadi ada[8].Bahwa benda-benda besar yang ada disekeliling kita, tadinya tidak ada bentuk dan rupanya kemudian menjadi ada, sebagaimana yang bisa kita saksikan secara kontiyu.

Sebagaimana nampak bagi kita proses perubahan yang terjadi, yang berlalu secara terus-menerus disekeliling kita dari partikel dan benda-benda yang ada dialam semesta ini, baik yang bisa kita lihat atau raba atau kita bisa merasakan efek kekuatan atau kekhususannya. Semisal, dari kematian menjadi hidup, dari hidup menjadi mati, dari perubahan bentuk dan rupa menjadi perubahan pada sifat dan energi.

Dan itu semua tidak bisa masuk dalam akal kita -sesuai dengan hukum alam ini yang tetap yang bisa kita ambil pelajarannya dari alam itu sendiri- melainkan dengan faktor efek yang didapat yang membawa rahasia perubahan-perubahan ini yang sangat banyak yang berlangsung secara terus menerus, yang terjadi pada segala benda dijagad raya ini dengan perbedaan bentuk dan sifatnya. Mulai dari partikel yang paling kecil hingga yang paling besar.

Dari sini bisa kita katakan, kalau seandainya hukum asal pada benda-benda yang familiar dipanca indera kita (partikel) sebagai benda yang ada secara azali, tentunya tidak bisa menjadi media konversi, perubahan, pertambahan, pengurangan, berkembangan dan kebinasaan. Dan tidak membutuhkan pada bentuk keberadaan dan perubahannya pada motif serta efeknya.

Dengan sebab adanya penghalang untuk sebuah proses perubahan dan konversi, aturan serta konsekuensinya yang menolak pada tuntutan yang dibutuhkannya pada motif dan efek yang dihasilkan, maka hal itu mengharuskan bahwa hukum asal ialah wujud. Hanya saja yang mewajibkan secara rasio bahwa hukum asal adalah ketiadaan, sebab akan menjadikan diantara sebab adanya adalah karena ketiadaan yaitu Allah Shubhanahu wa ta'ala.[9]

References

[1]. Lihat bantahan atas mereka secara luas dalam kitab Marksiyah fii Muwajahah Diin, Haqaiq wa Watsaiq hal: 25-26 oleh D. Abdul Mu'thi Muhammad Bayumi.

[2]. Shara' ma'al Mulahidah hatta Idham hal: 105-106. D. Hasan al-Maidani.

[3]. Majmu Fatawa 13/151 Ibnu Taimiyah.

[4]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 18/236-237.

[5]. Lihat keterangannya dalam kitab Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 3/113.

[6]. Majmu Fatawa 18/235-236.

[7]. Seperti disinyalir oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan bertawakkal lah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya". QS al-Furqan: 58.

[8]. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". QS Maryam: 99. Dan juga dalam firmanNya, yang artinya: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?". QS al-Insaan: 1.

[9]. Lihat keterangannya dalam kitab Aqidah Islamiyah wa Asasuha hal: 125-130 oleh Abdurahman bin Hasan al-Midani.


Related Articles with 2. Tidak adanya bukti autentik yang mendukung akan kelanggengan dan azaliyahnya materi